Rabu, 17 Juni 2015

Mengonversi Cerpen dalam Naskah Drama

Mengonversi Cerpen dalam Naskah Drama
Sastra Indonesia
Cerpen yang berjudul “Kabar dari Bambang” oleh
Kumpulan Cerpen Kompas


Oleh:
Laras Anindita/07

SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 4 MALANG
Jalan Tugu Utara Nomor 1 Malang, Jawa Timur 65111  Telp.(0341) 325267

Tahun Pelajaran 2014/2015







      Naskah Drama Kabar dari Bambang

Seorang wartawati mulai memasuki ruang praktik dokter, ketika jam di dinding menunjukkan jarumnya pada pukul 10 malam. Dia sudah tak kuasa menahan gatal di tubuhnya.
Dokter                  : “Selamat malam, dengan mbak Dini ya? Ada keluhan apa mbak Dini?”
Dini                        : “Malam Dok, jadi gini saya itu rasanya kegatelan terus gitu loh Dok.”
Dokter                  : “Kegatelan?” (Sambil menggaruk kepalanya dengan alis mengkerut)
Dini                        : “Ya maksud saya gatal-gatal Dok.”
Dokter                  : “Owh…, Mbak Dini memangnya habis makan apa?”
Dini                        : “Makan udang tadi Dok.”
Dokter                  : “Jika begitu gatalnya di sebabkan pemicu alergi dari udang yang mbak Dini makan tadi.”
Dini                        : “Setahu saya, saya tidak pernah alergi apapun Dok, ya sudah lah Dok saya minta resep obatnya. Saya sudah terburu deadline.”
Dokter                  : (Sambil menulis resep obat) “Ini resep obatnya ya, di minum 3 kali sehari, sampai rasa gatalnya benar-benar hilang.”
Dini                        : “Reaksi obatnya berapa menit Dok setelah di minum?”
Dokter                  : “Loh.. ya tidak secepat itu, proses obat biasanya bekerja enam jam setelah diminum, sebaiknya Anda tidur dulu, baru besok melanjutkan kerjanya.”
Dini                        : “Dokter, sebaiknya Anda memberi saya obat yang mahal, bukan generik, agar cepat sembuh! Saya mengejar deadline untuk berita besok!”
Dokter                  : (Tersenyum)
Ayang Dini kembali dari masa lalunya, pada masa itulah Ia bertemu untuk pertama kalinya dengan Bambang. Saat Ia berusia sekitar 28 tahunan.

Mama                   : “Kamu sudah ada pacar?”
Dini                        : “(Melirik ke arah mamanya) “Pacar? Belum sempat memikirkan.”
Papa                      : “Papa kira ada banyak lelaki yang cukup akrab denganmu, mengapa tidak kamu pilih salah satu dari mereka?”
Dini                        : “Mengapa Papa serius, apakah Mama yang menyuruh Papa berkata begitu?”
Papa                      : “Tidak, papa kira sudah waktunya kamu memilih jodohmu. Kami suka sekali kepada Kemal, apakah tidak ingin serius dengannya?”
Dini                        : (Dini membelalakkan mata )“Bagaimana mungkin masih ada cerita Siti Nurbaya.”
Diam sejenak
Mama                   : “Kau tahu, adikmu Adit, sudah lama pacaran dan tadi orangtua pacarnya menelepon kami, menanyakan keseriusan adikmu. Kami tidak suka kamu didahului oleh adikmu. Sekarang pilih untuk dirimu sendiri atau kami yang memilihkan. Kau tahu, kami menyukai Kemal! Kami percaya di antara sekian teman laki-lakimu, dia bakal menjadi suami yang baik untukmu. Karena kau begitu keras kepala, sedang Kemal kelihatan bisa sabar kepadamu.”
Papa                      : “Ini masalah pelik bagi kami. Hal itu tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Buat kami perempuan pada usia 28 tahun, belum menikah dan masih meniti karier bukan masalah. Tapi, ketika adik laki-lakimu akan menikah persoalannya tidak jadi sesederhana itu. Ini memang problem sosial. Kami tidak rela jika orang melihatmu dengan mata penuh kasihan, karena adik laki-lakimu menikah lebih dahulu.”
Dini                        : “Kalau adik mau menikah lebih dahulu, itu bukan masalah bagiku!”
Tiba-tiba mama memeluk Dini. Kemudian malam itu Dini, Mama, dan Papa berjalan-jalan di komplek rumah.
Dini                        : “Mama dan Papa masuk duluan saja. Dini masih ingin mencari angin segar.”
Mama                   : “Yasudah, Mama dan Papa masuk dulu.”
Kini Dini hanya sendiri ditemani angin segar dan sebuah ayunan bertali tampar di bawah pohon. Ia duduk di atasnya.
Dini                        : (Ia menggaruk-garuk tangannya) “Soal jodoh lagi. Aku sudah bosan dengar cercaan ‘disuruh cepat nikah, disuruh cari jodoh, kemal cocok denganku,’ terus saja mengurusi urusan percintaanku!”

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Sudah 3 bulan lamanya Bambang dan Dini berteman. Bambang, ya Bambang seorang dokter yang dulu pernah mengobati Dini. Nampaknya mereka berdua menjalin ke arah yang serius. Karena umur mereka sudah tidak muda lagi.
Dini                        : “Bagaimana dengan hubungan kita?” (Sambil menyesap Jus di depannya.)
Bambang             : “Aku tidak ingin hubungan ini hanya berjalan begitu saja, aku ingin mengajakmu ke arah yang lebih serius yaitu pernikahan.” (Memberikan kotak cincin di hadapan Dini)
Dini                        : “Terima kasih, aku juga ingin hubungan ini ke arah yang lebih serius. Bagaimana untuk selanjutnya?”
Bambang             : “Kita pertemukan saja kedua keluarga kita. Sebenarnya orang tuaku sudah setuju denganmu.”
Dini                        : “Sejujurnya saja, orang tuaku menginginkan aku untuk segera menikah.”
Bambang             : “Bagaimana dengan perencanaan pernikahan yang tak terlalu mewah, sederhana saja tapi berkesan?”
Dini                        : “Baiklah.”
Bambang             : “Apa kau sudah siap lahir dan batin?”
Dini                        : “ Ya aku sudah memikirkan matang-matang.”
Bambang             : “Kita rencanakan 6 bulan dari sekarang bagaimana?”
Dini                        : “Aku ingin di tempat terbuka, seperti taman.”
Bambang             : “ Boleh juga, warna pakaiannya putih dengan kombinasi silver.”

Setelah 6 bulan persiapan mereka akhirnya menikah dengan balutan busana putih silver. Dengan tamu undangan kerabat, saudara, dan teman dekat saja. Pernikahan manis dan sederhana tetapi mengesankan.
Tak terasa umur biduk pernikahan mereka akan memasuki tahun keempat. Lantas semua berjalan baik-baik saja. Mereka telah dikaruniai seorang putrii yang jelita pada tahun pertama pernikahan mereka. Matanya nampak persis ayahnya, dengan bentuk wajah yang persis dengan ibunya. Hanya saja Dini terkadang merasa heran, dia sering melihat suaminya sendirian di teras. Sama halnya dengan malam ini.
Dini                        : “ Sendirian saja Mas.”
Bambang             : (Melamun dan langsung tersentak) “Eh iya..”
Dini                        : “Lagi mikirin apa? Kok serius sekali.”
Bambang             : “Enggak, hanya ingin sendiri saja.”
Dini                        : “Mau aku buatkan teh hangat Mas?”
Bambang             : “Boleh, kaya biasanya ya jangan terlalu manis. Soalnya yang buat sudah manis.”
Hari ini Bambang akan mengadakan praktek di luar kota, di Bandung. Seminggu dua kali paling tidak Bambang akan melakukan praktek di luar kota.
Dini                        : “Praktek di mana Mas?”
Bambang             : “ Di Bandung.”
Dini                        : “ Bandung lagi?”
Bambang             : Iya. Bukankah kita bertemu pertama kali di kota itu dan rasanya, aku punya ikatan emosional dengan pasienku.”
Malam ini Dini ingin melakukan hal spesial untuk Bambang yaitu menatakan kopor suaminya. Dini mengambilkan Jas-lab yang tergantung. Namun Dini menemukan hal yang tak terduga.
Dini                        : (Menemukan Make-up) “Apa ini semua?”  (Menemukan pakaian perempuan)
“Mas Bambang punya perempuan lain?” (Matanya terlihat nanar)
“Aku ingin tahu bagaimana perempuan itu? Apa dia lebih cantik dari aku? Lihat saja nanti.” (Memasukan kembali barang aneh itu ke tempatnya)
Malam itu juga Dini mengikuti Bambang setelah menutup jam praktiknya. Mobil Bambang mengarah ke sebuah kafe. Hanya saja Ia melihat hal yang begitu mengejutkan ketika melihat seseorang yang keluar dari mobil Bambang.
Dini                        : “Apa? Mas Bambang? Seperti wanita? Apa-apaan ini semua!”
(Ia berusaha menampar wajahnya sendiri)
“Ouch... ternyata bukan mimpi. Astaga suamiku selama ini...” (Matanya nampak berair)
Dini melihat suaminya tertawa bahagia dengan teman se-gengnya di dalam kafe, Ia sangat ingin menampar suaminya berkali-kali namun apa daya, Ia hanya terpaku.
Sepanjang jalan sampai di rumah Dini tak kuasa menahan tangis. Tak lama Bambang pulang ke rumah.
Bambang             : (Duduk di kasur) “ Ada apa denganmu? Apa ada yang menyakitimu?”
Dini                        : (Menangis sambil memunggungi Bambang.)
Bambang             : “ Apa aku menyakitimu? Aku tak pernah ingin menyakiti istriku.”
Keesokannya, Dini ingat bahwa suaminya selalu merekomendasikan sebuah buku untuknya. Namun Dini tak pernah membacanya.
Dini                        : (Berjalan ke rak dan mengambil bukunya) “ ‘Alangkah sulitnya kalau terjebak di tubuh laki-laki, sedang kita adalah perempuan’ Apa-apan ini? (Ia menahan ketir dalam diri)
Dini terlihat lunglai.
Dini                        : “Aku selalu menganggapmu seperti sahabat, teman curhat, kakak. Dan  kukira kita ini keluarga bahagia. Nyatanya! Ada sesuatu yang salah yang begitu dahsyat di balik itu semua.”
“Jadi kelakuan aneh yang kau miliki menunjukan ini semua. Aku tak pernah berpikir sampai sejauh ini.”
Malam itu mereka bicara secara empat mata di kamar.
Dini                        : (Menunjukkan make up Bambang) “Apa maksud benda ini semua?”
Bambang             : “Baiklah aku tak akan berbohong lagi. Aku memang bertemu dengan banyak manusia dan hal itu membuatku tahu kalau kau sekarang tidak bahagia.”
(Bambang memegang tangan Dini)
“Aku selalu ingat waktu pertama kali ketemu kau di ruang praktikku, aku merasa seperti bertemu adik perempuanku yang keras kepala, sensitive dan begitu cantik. Aku segera menyukaimu.”
Dini                        : “Adik perempuan?”
Bambang             : (Mengangguk) “Iya”
Dini                        : (Dini menampar Bambang berulang kali) “Kau penipu kalau aku tahu kau seorang…, aku tidak pernah mau menikah denganmu, ini sungguh menjijikkan dan Adnan sebagai pengacara yang akan mengurus perceraianku denganmu.”
Bambang             : (Menggelengkan kepala) “Aku tidak bermaksud menipumu. Aku sebetulnya ingin menjadi perempuan sepertimu, tapi keluargaku begitu mencintaimu! Berharap aku segera menikahimu sebagai laki-laki. Aku memang tidak pernah berani mengatakan siapa sebenarnya diriku sejak akte kelahiran, KTP, dan STTB bahkan namaku adalah laki-laki.” (Menitikkan air mata)
Dini                        : “Baiklah, aku ingin kita bercerai secara baik-baik. Aku ingin kau tetap menjadi kakakku bukan saja demi anak kita tapi juga demi aku, kau tahu aku tidak pernah bisa peduli pada orang lain.”
Bambang             : “Kau tahu temanmu yang suka mengantarmu kesini, menyukaimu! Aku selalu takut jika kau akan mendapat suami yang suka kasar kepadamu.” (Mencium Dini sekilas dan tersenyum kemudian pergi dari kamar)
Mereka telah pisah ranjang sebelum mereka bercerai. Dan kini mereka telah berpisah secara baik-baik.
Sebulan kemudian Dini mendapatkan sebuah surat dari Bambang. Setelah sekian bulan tak bertemu. Dini membuka surat itu.
Dini, yang saya sayangi,
Saya memutuskan untuk pindah Negara dan saya sangat bahagia sekali karena kau bisa menerima aku seutuhnya dan kau berjanji untuk tidak menceritakan hal ini pada anak kita sampai dia dewasa. O ya, pada sahabatku dokter Kemal (aku tahu dia menyukaimu) aku perlu menceritakan semua tentang kita….
Dini yang baik,
Maaf, aku sudah mengatakan pada Kemal, aku akan merasa bahagia jika dia mau menikahi kau. Mudah-mudahan sebagai kakakmu keinginan ini wajar dan didengar oleh Tuhan. Beberapa tahun yang lampau, bukankah kau dijodohkan dengan Kemal, tapi kau merasa harga dirimu terbanting dan kau juga merasa dirimu Siti Nurbaya yang harus kawin paksa.
My dearest, Dini.
Aku sendiri akan pergi dari satu negeri ke negeri yang lain dan mencoba mengerti tentang diriku sendiri. Berharap di tempat lain akan kutemukan sebuah tempat dimana aku bisa diterima seutuh-utuhnya. Aku selalu ingat kau sebagai perempuan yang aku sayangi dan tentu saja aku akan tetap menyayangi anak perempuanku.
Salamku.

Dini menitikan air mata seketika membacanya. Dia bayangkan Bambang (yang disayanginya) mengembara dari negeri satu ke negeri yang lain mencari jati dirinya.
Kadang-kadang Bambang masih mengirim e-mail kepadanya dan setiap menerima surat Bambang dia merasa seperti menerima surat dari orang yang menyayanginya.
Setelah sekian bulan Dini dan Kemal menjalin hubungan mereka akhirnya menikah, seperti apa yang di katakan Bambang (yang sudah dianggap kakak sendiri). Mereka nampak bahagia,dan  tak sampai setahun Dini melahirkan anak Kemal.
Suster                   : “Selamat Anda melahirkan seorang putra yang tampan, matanya mirip sekali dengan Anda.”
Kemal                   : “Selamat sayang. Kau memang ibu yang hebat. Dia sangat tampan seperti bapaknya bukan?”
Dini                        : (Menggendong anaknya dan menangis bahagia) “Aku ingin kakak tahu akan ini.”





Semoga bermanfaat kawan..^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar