Mengonversi Cerpen dalam Naskah Drama
Sastra Indonesia
Cerpen yang berjudul “Kabar dari Bambang” oleh
Kumpulan Cerpen Kompas
Oleh:
Laras Anindita/07
SEKOLAH MENENGAH ATAS
NEGERI 4 MALANG
Jalan Tugu Utara Nomor
1 Malang, Jawa Timur 65111 Telp.(0341) 325267
Tahun Pelajaran
2014/2015
Naskah Drama Kabar dari
Bambang
Seorang
wartawati mulai memasuki ruang praktik dokter, ketika jam di dinding
menunjukkan jarumnya pada pukul 10 malam. Dia sudah tak kuasa menahan gatal di
tubuhnya.
Dokter : “Selamat malam, dengan mbak
Dini ya? Ada keluhan apa mbak Dini?”
Dini : “Malam Dok, jadi gini saya itu
rasanya kegatelan terus gitu loh Dok.”
Dokter : “Kegatelan?” (Sambil menggaruk
kepalanya dengan alis mengkerut)
Dini : “Ya maksud saya gatal-gatal Dok.”
Dokter : “Owh…, Mbak Dini memangnya
habis makan apa?”
Dini : “Makan udang tadi Dok.”
Dokter : “Jika begitu gatalnya di
sebabkan pemicu alergi dari udang yang mbak Dini makan tadi.”
Dini : “Setahu saya, saya tidak
pernah alergi apapun Dok, ya sudah lah Dok saya minta resep obatnya. Saya sudah
terburu deadline.”
Dokter : (Sambil menulis resep obat)
“Ini resep obatnya ya, di minum 3 kali sehari, sampai rasa gatalnya benar-benar
hilang.”
Dini : “Reaksi obatnya berapa menit Dok
setelah di minum?”
Dokter : “Loh.. ya tidak secepat itu, proses obat biasanya bekerja enam jam setelah diminum,
sebaiknya Anda tidur dulu, baru besok melanjutkan kerjanya.”
Dini : “Dokter, sebaiknya Anda
memberi saya obat yang mahal, bukan generik, agar cepat sembuh! Saya mengejar
deadline untuk berita besok!”
Dokter : (Tersenyum)
Ayang Dini kembali dari masa lalunya,
pada masa itulah Ia bertemu untuk pertama kalinya dengan Bambang. Saat Ia berusia sekitar 28 tahunan.
Mama : “Kamu sudah ada pacar?”
Dini : “(Melirik ke arah mamanya) “Pacar? Belum sempat
memikirkan.”
Papa : “Papa kira ada banyak lelaki
yang cukup akrab denganmu, mengapa tidak kamu pilih salah satu dari mereka?”
Dini :
“Mengapa Papa serius, apakah Mama yang menyuruh
Papa berkata begitu?”
Papa :
“Tidak, papa kira sudah waktunya kamu memilih
jodohmu. Kami suka sekali kepada Kemal, apakah tidak ingin serius dengannya?”
Dini :
(Dini membelalakkan mata )“Bagaimana mungkin masih ada cerita Siti Nurbaya.”
Diam
sejenak
Mama :
“Kau tahu, adikmu Adit, sudah lama pacaran dan tadi orangtua pacarnya menelepon
kami, menanyakan keseriusan adikmu. Kami tidak suka kamu didahului oleh adikmu.
Sekarang pilih untuk dirimu sendiri atau kami yang memilihkan. Kau tahu, kami
menyukai Kemal! Kami percaya di antara sekian teman laki-lakimu, dia bakal
menjadi suami yang baik untukmu. Karena kau begitu keras kepala, sedang Kemal
kelihatan bisa sabar kepadamu.”
Papa :
“Ini masalah pelik bagi kami. Hal itu tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Buat
kami perempuan pada usia 28 tahun, belum menikah dan masih meniti karier bukan
masalah. Tapi, ketika adik laki-lakimu akan menikah persoalannya tidak jadi
sesederhana itu. Ini memang problem sosial. Kami tidak rela jika orang
melihatmu dengan mata penuh kasihan, karena adik laki-lakimu menikah lebih
dahulu.”
Dini :
“Kalau adik mau menikah lebih dahulu, itu bukan masalah bagiku!”
Tiba-tiba
mama memeluk Dini. Kemudian malam itu Dini, Mama, dan Papa berjalan-jalan di
komplek rumah.
Dini :
“Mama dan Papa masuk duluan saja. Dini masih ingin mencari angin segar.”
Mama :
“Yasudah, Mama dan Papa masuk dulu.”
Kini Dini hanya
sendiri ditemani angin segar dan sebuah ayunan bertali tampar di bawah pohon.
Ia duduk di atasnya.
Dini :
(Ia menggaruk-garuk tangannya) “Soal jodoh lagi. Aku sudah bosan dengar cercaan
‘disuruh cepat nikah, disuruh cari jodoh,
kemal cocok denganku,’ terus saja mengurusi urusan percintaanku!”
Tak terasa waktu
berlalu dengan cepat. Sudah 3 bulan lamanya Bambang dan Dini berteman. Bambang,
ya Bambang seorang dokter yang dulu pernah mengobati Dini. Nampaknya mereka
berdua menjalin ke arah yang serius. Karena umur mereka sudah tidak muda lagi.
Dini : “Bagaimana dengan
hubungan kita?” (Sambil menyesap Jus di depannya.)
Bambang : “Aku tidak ingin hubungan ini
hanya berjalan begitu saja, aku ingin mengajakmu ke arah yang lebih serius
yaitu pernikahan.” (Memberikan kotak cincin di hadapan Dini)
Dini : “Terima kasih, aku
juga ingin hubungan ini ke arah yang lebih serius. Bagaimana untuk
selanjutnya?”
Bambang : “Kita pertemukan saja kedua
keluarga kita. Sebenarnya orang tuaku sudah setuju denganmu.”
Dini : “Sejujurnya saja,
orang tuaku menginginkan aku untuk segera menikah.”
Bambang : “Bagaimana dengan perencanaan
pernikahan yang tak terlalu mewah, sederhana saja tapi berkesan?”
Dini : “Baiklah.”
Bambang : “Apa kau sudah siap lahir dan
batin?”
Dini : “ Ya aku sudah
memikirkan matang-matang.”
Bambang : “Kita rencanakan 6 bulan dari
sekarang bagaimana?”
Dini : “Aku ingin di tempat
terbuka, seperti taman.”
Bambang : “ Boleh juga, warna pakaiannya
putih dengan kombinasi silver.”
Setelah 6 bulan
persiapan mereka akhirnya menikah dengan balutan busana putih silver. Dengan
tamu undangan kerabat, saudara, dan teman dekat saja. Pernikahan manis dan
sederhana tetapi mengesankan.
Tak terasa umur biduk pernikahan mereka akan memasuki tahun keempat. Lantas
semua berjalan baik-baik saja. Mereka telah dikaruniai seorang putrii yang
jelita pada tahun pertama pernikahan mereka. Matanya nampak persis ayahnya, dengan
bentuk wajah yang persis dengan ibunya. Hanya saja Dini terkadang merasa heran,
dia sering melihat suaminya sendirian di teras. Sama halnya dengan malam ini.
Dini : “
Sendirian saja Mas.”
Bambang : (Melamun dan
langsung tersentak) “Eh iya..”
Dini : “Lagi
mikirin apa? Kok serius sekali.”
Bambang : “Enggak, hanya
ingin sendiri saja.”
Dini : “Mau aku
buatkan teh hangat Mas?”
Bambang : “Boleh, kaya
biasanya ya jangan terlalu manis. Soalnya yang buat sudah manis.”
Hari ini Bambang akan mengadakan praktek di luar kota, di Bandung. Seminggu
dua kali paling tidak Bambang akan melakukan praktek di luar kota.
Dini : “Praktek
di mana Mas?”
Bambang : “ Di Bandung.”
Dini : “
Bandung lagi?”
Bambang : “Iya. Bukankah
kita bertemu pertama kali di kota itu dan rasanya, aku punya ikatan emosional
dengan pasienku.”
Malam ini Dini ingin melakukan hal spesial untuk Bambang yaitu menatakan
kopor suaminya. Dini mengambilkan Jas-lab yang tergantung. Namun Dini menemukan
hal yang tak terduga.
Dini :
(Menemukan Make-up) “Apa ini semua?”
(Menemukan pakaian perempuan)
“Mas Bambang punya perempuan lain?” (Matanya terlihat nanar)
“Aku ingin tahu bagaimana perempuan itu? Apa dia lebih cantik dari aku?
Lihat saja nanti.” (Memasukan kembali barang aneh itu ke tempatnya)
Malam itu juga Dini mengikuti Bambang setelah menutup jam praktiknya. Mobil
Bambang mengarah ke sebuah kafe. Hanya saja Ia melihat hal yang begitu
mengejutkan ketika melihat seseorang yang keluar dari mobil Bambang.
Dini : “Apa?
Mas Bambang? Seperti wanita? Apa-apaan ini semua!”
(Ia berusaha menampar wajahnya sendiri)
“Ouch... ternyata bukan mimpi. Astaga suamiku selama ini...” (Matanya
nampak berair)
Dini melihat suaminya tertawa bahagia dengan teman se-gengnya di dalam kafe,
Ia sangat ingin menampar suaminya berkali-kali namun apa daya, Ia hanya terpaku.
Sepanjang jalan sampai di rumah Dini tak kuasa menahan tangis. Tak lama
Bambang pulang ke rumah.
Bambang : (Duduk di kasur)
“ Ada apa denganmu? Apa ada yang menyakitimu?”
Dini :
(Menangis sambil memunggungi Bambang.)
Bambang : “ Apa aku
menyakitimu? Aku tak pernah ingin menyakiti istriku.”
Keesokannya, Dini ingat bahwa suaminya selalu merekomendasikan sebuah buku
untuknya. Namun Dini tak pernah membacanya.
Dini :
(Berjalan ke rak dan mengambil bukunya) “ ‘Alangkah
sulitnya kalau terjebak di tubuh laki-laki, sedang kita adalah perempuan’
Apa-apan ini?” (Ia menahan ketir
dalam diri)
Dini terlihat lunglai.
Dini : “Aku
selalu menganggapmu seperti sahabat, teman curhat, kakak. Dan kukira kita ini keluarga bahagia. Nyatanya!
Ada sesuatu yang salah yang begitu dahsyat di balik itu semua.”
“Jadi kelakuan aneh yang kau miliki menunjukan ini semua. Aku tak pernah
berpikir sampai sejauh ini.”
Malam itu mereka bicara secara empat mata di kamar.
Dini :
(Menunjukkan make up Bambang) “Apa maksud benda ini semua?”
Bambang :
“Baiklah aku tak akan berbohong lagi. Aku memang bertemu dengan banyak manusia dan hal itu membuatku tahu kalau kau sekarang tidak
bahagia.”
(Bambang memegang tangan Dini)
“Aku selalu ingat waktu pertama kali ketemu kau di ruang
praktikku, aku merasa seperti bertemu adik perempuanku yang keras kepala,
sensitive dan begitu cantik. Aku segera menyukaimu.”
Dini :
“Adik perempuan?”
Bambang :
(Mengangguk) “Iya”
Dini :
(Dini menampar Bambang berulang kali) “Kau penipu kalau aku tahu kau seorang…,
aku tidak pernah mau menikah denganmu, ini sungguh menjijikkan dan Adnan
sebagai pengacara yang akan mengurus perceraianku denganmu.”
Bambang :
(Menggelengkan kepala) “Aku
tidak bermaksud menipumu. Aku sebetulnya ingin menjadi perempuan sepertimu, tapi keluargaku begitu mencintaimu! Berharap aku
segera menikahimu sebagai laki-laki. Aku memang tidak pernah berani mengatakan
siapa sebenarnya diriku sejak akte kelahiran, KTP, dan STTB bahkan namaku
adalah laki-laki.” (Menitikkan air mata)
Dini :
“Baiklah, aku ingin kita bercerai secara baik-baik. Aku ingin kau tetap menjadi
kakakku bukan saja demi anak kita tapi juga demi aku, kau tahu aku tidak pernah
bisa peduli pada orang lain.”
Bambang :
“Kau tahu temanmu
yang suka mengantarmu kesini, menyukaimu! Aku selalu takut jika kau akan
mendapat suami yang suka kasar kepadamu.” (Mencium Dini sekilas dan tersenyum kemudian pergi dari
kamar)
Mereka telah pisah ranjang sebelum mereka bercerai. Dan
kini mereka telah berpisah secara baik-baik.
Sebulan kemudian Dini mendapatkan sebuah surat dari
Bambang. Setelah sekian bulan tak bertemu. Dini membuka surat itu.
Dini,
yang saya sayangi,
Saya
memutuskan untuk pindah Negara dan saya sangat bahagia sekali karena kau bisa
menerima aku seutuhnya dan kau berjanji untuk tidak menceritakan hal ini pada
anak kita sampai dia dewasa. O ya, pada
sahabatku dokter Kemal (aku tahu dia menyukaimu) aku perlu menceritakan semua
tentang kita….
Dini yang
baik,
Maaf, aku
sudah mengatakan pada Kemal, aku akan merasa bahagia jika dia mau menikahi kau.
Mudah-mudahan sebagai kakakmu keinginan ini wajar dan didengar oleh Tuhan.
Beberapa tahun yang lampau, bukankah kau dijodohkan dengan Kemal, tapi kau
merasa harga dirimu terbanting dan kau juga merasa dirimu Siti Nurbaya yang
harus kawin paksa.
My dearest,
Dini.
Aku sendiri
akan pergi dari satu negeri ke negeri yang lain dan mencoba mengerti tentang
diriku sendiri. Berharap di tempat lain akan kutemukan sebuah tempat dimana aku
bisa diterima seutuh-utuhnya. Aku selalu ingat kau sebagai perempuan yang aku
sayangi dan tentu saja aku akan tetap menyayangi anak perempuanku.
Salamku.
Dini menitikan air mata seketika membacanya. Dia bayangkan Bambang (yang disayanginya) mengembara
dari negeri satu ke negeri yang lain mencari jati dirinya.
Kadang-kadang
Bambang masih mengirim e-mail kepadanya dan setiap menerima surat Bambang dia
merasa seperti menerima surat dari orang yang menyayanginya.
Setelah sekian bulan Dini dan Kemal menjalin hubungan
mereka akhirnya menikah, seperti apa yang di katakan Bambang (yang sudah
dianggap kakak sendiri). Mereka nampak bahagia,dan tak sampai setahun Dini melahirkan anak Kemal.
Suster :
“Selamat Anda melahirkan seorang putra yang tampan, matanya mirip sekali dengan
Anda.”
Kemal :
“Selamat sayang. Kau memang ibu yang hebat. Dia sangat tampan seperti bapaknya
bukan?”
Dini :
(Menggendong anaknya dan menangis bahagia) “Aku ingin kakak tahu akan ini.”
Semoga bermanfaat kawan..^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar